2186_1083454973053_873_n
Tentang Festi-File Binus: “Gue anak Paramadina…”
December 20, 2008
Prev Daftar Isi
Perancangan Ensiklopedia Visual “DPAZL” sebagai Media Pembangun Awareness terhadap Eksistensi Kelompok Elit Illuminati
February 19, 2013
Show all

Chevron: Kota Leluhur Yahudi yang Pernah Dibantai, Diperkosa, Bahkan Dibakar Bangsa Arab

Bahkan Terdapat Desainer yang Sangat Jarang Dijadikan Ikon

Tulisan ini adalah versi lite dari esai perkuliahan Apresiasi Desain (tentang bagaimana mendeskripsikan hingga menilai suatu karya desain), yang memang menarik perhatian saya sejak pertama kali menyaksikannya di televisi.

Logo Chevron pada TV-ad

Chevron Corporation telah berada di Indonesia sejak lebih dari 80 tahun. Chevron Indonesia adalah perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di Indonesia. Kategori usahanya adalah usaha hulu dimana ia mengambil dan mengolah minyak dan gas bumi, kemudian dijual dalam bentuk minyak mentah ke berbagai kilang minyak. Untuk kasus di Indonesia tentunya kebanyakan atau keseluruhan dijual ke kilang milik Pertamina.

Untuk gas sendiri diubah perusahaan yang berkantor pusat di San Ramon, California ini ke bentuk cair dan dikirim lewat kapal untuk digunakan oleh pembelinya. Karena tidak ada pipa gas langsung ke konsumen dari lapangan Chevron di Sumatera yang merupakan bekas perusahaan Unocal yang bergabung dengan Chevron pada tahun 2005.

Sebagai perusahaan yang tidak menjual produk langsung ke konsumen retail, tentunya beriklan di media merupakan hal yang dirasa kurang perlu. Namun pada kenyataannya, Chevron telah meluncurkan 4 serial iklan yang selain muncul di televisi, juga dapat ditemukan di koran, majalah dan internet sejak akhir tahun lalu. Dimana pada masing-masing iklan dicantumkan alamat web www.chevronindonesia.com yang sebenarnya merefer ke salah satu bagian dari alamat web resmi Chevron www.chevron.com yang berisi konten-konten edukatif mengenai perusahaan minyak.

538450_3793533003310_626511894_n

Terdapat 4 iklan serial dengan pesan utama “Kami Setuju”. Pesan disampaikan menggunakan teknik narasi antara pihak Chevron dan masyarakat dengan latar belakang pekerjaan berbeda yang saling melengkapi kalimat narasi. Dengan subtema sebagai berikut:

  1. MASYARAKAT | Perusahaan minyak dan masyarakat harus saling mendukung
  2. TEKNOLOGI | Perusahaan minyak perlu melakukan terobosan
  3. SUMBER DAYA | Perusahaan minyak perlu berpikir jangka panjang
  4. KOMITMEN | Perusahaan harus berkomitmen demi masa depan Indonesa

Iklan ini menggunakan narasi yang dilakukan secara bergantian, namun saling melengkapi. Ia berusaha memperlihatkan kesejajaran antara perusahaan Chevron dengan masyarakat di Indonesia.

Karena iklan ini bersifat edukatif, maka Chevron menargetkan iklan ini kepada masyarakat menengah ke atas berpendidikan yang notabene lebih kritis dalam menilai suatu hal, dan memang berpengaruh dalam masyarakat. Untuk itulah ia memilih endorser yang merupakan pekerja profesional yaitu penulis yang berada di bioskop mewakili generasi profesional muda. Kemudian Desainer Grafis yang selain mewakili orang-orang kreatif yang cukup jarang dijadikan target market, juga berniat menargetkan iklan ke pekerja kelas professional group income. Begitupula dengan Produser Radio yang dipilih untuk menargetkan eksekutif muda. Dan terakhir, seorang profesor mewakili generasi yang lebih tua yang pastinya juga berpendidikan.

Meminjam Semiotika Tanda Keislaman

Meminjam Semiotika Tanda Keislaman

Yang menarik disini adalah, betapa Chevron menganggap (alias sangat tahu bahwa) Indonesia sebagai negara yang memiliki nilai Islam. Terbukti dari penampilan endorser yang sebagian besar meminjam citra keislaman dengan mengenakan jilbab bahkan hijab, lalu profesor dengan janggut lebat dan baju menyerupai baju koko yang secara intrinsik metonimia menginformasikan tanda dari ciri seorang agamis. Chevron berusaha meminjam tanda-tanda tersebut untuk merangkul Indonesia menurut sudut pandangnya.

Selain itu, secara umum Chevron juga berusaha mensosialisasikan value diferensiasi sebagai perusahaan minyak dan gas. Dengan berusaha menunjukkan jasanya kepada Indonesia, ia berusaha memperlihatkan ideologi sosial yang dapat mengambil hati masyarakat menuju suatu utopia positif. Citra perusahaan minyak yang akan secara semiotika membawa audiens ke citra dari kata “minyak” itu sendiri, berusaha ia tampikkan secara teknis dengan videografi yang clean dan latar belakang dan desain layout modern yang friendly.

Pada dasarnya, iklan ini memiliki ekseskusi yang baik. Narasi yang pintar dibungkus dengan videografi apik sambil meminjam gaya hidup beberapa segmen dari target audiens yang dituju merupakan iklan yang dapat dikatakan sangat visioner atau sarat akan tujuan dan makna. Iklan dengan format seperti ini juga dapat disebut sebagai produk baru di Indonesia. Namun jika menerawang lebih dalam, di sisi lain, iklan ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan kritis.

Sebut saja mengenai penampilan para endorser yang syar’i itu. Alih-alih mengambil hati, bisa jadi hal ini malah membuat audiens merasa curiga. Apalagi setelah ditelusuri, rupanya Chevron merupakan nama sebuah kota suci leluhur Yahudi yang katanya pernah terjadi pembantaian orang Yahudi oleh bangsa Arab di masa itu. Bisa-bisa iklan ini malah dianggap sebagai sebuah propaganda politik bahkan reliji.

Penulis Muda sebagai Representator dalam

Penulis Muda sebagai Representator dalam "Merangkul" Investasi Pencitraan pada Pemuda

Selain itu – jika melihat tujuan periklanan sebagai media promosi – tidak ada produk yang ditawarkan baik pada iklan televisi, majalah, koran hingga internetnya yang sama-sama mengacu pada alamat web Chevron yang hanya berisi unsur edukasi dan strategi komunikasi marketing dalam bentuk poling bertajuk “Saya Setuju”. Mengingat bahwa memang Chevron bukanlah pemroduksi produk industri retail.

Iklan ini lebih ke kampanye edukasi yang akan menyerempet ke arah CSR (Corporate Social Responsibility), atau tanggung jawab sosial perusahaan yang dalam pengertiannya merupakan suatu tanggung jawab organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Padahal, anggaran beriklan yang pastinya miliaran itu bisa saja digunakan untuk keperluan sosial lain yang lebih urgent seperti pembangunan sekolah, misalnya. Apalagi, biaya CSR itu adalah non-cost recovery, artinya biaya iklan televisi yang nilainya puluhan hingga ratusan juta rupiah per menitnya, atau biaya iklan di Kompas yang 1/2 halaman full color itu sekitar 200-300 juta per harinya, atau biaya iklan di detik.com selama berhari-hari yang tentunya juga tidak murah tidak akan diganti oleh pemerintah sebagai bagian biaya operasi.

Jika melihat ke media lain kampanye ini seperti majalah, terdapat real endorser dari pejabat pemerintah yang dalam hal ini Komisaris Pertamina yang sampai mencantumkan tanda tangannya, bagaimana mungkin "petugas" negara malah menjadi Ambassador perusahaan Asing. Bayangkan bagaimana pemimpin-pemimpin nasionalis seperti sebut saja - Bung Karno, menanggapi hal ini. Padahal jika melihat pesan Chevron dengan "janji" berkomitmen demi masa depan Indonesia, hal ini dinilai terlalu tinggi bahkan muluk. Karena indikator komitmennya tidak dapat diukur. “Apa Chevron mau semua lifting-nya diserahkan ke kilang domestik? Apa mereka mau 100 persen manajemennya untuk anak Indonesia? Kapan TKDN-nya 100 persen? Itu semua omong kosong !!! Jangan membodohi rakyat!!!” demikian kalimat pembuka Faisal Yusra, Presiden Konfederasi SP MIGAS Indonesia (KSPMI), pada dinding jejaring sosial Facebook, Rabu, 21 Desember 2011 lalu[1]

Sepertinya, ‘musuh' para pecinta lingkungan hidup, karena memiliki lokasi di hutan lindung yang memiliki 'hutang' karena lebarnya jurang pemisah antara masyarakat setempat dengan kesejahteraan pegawai Chevron ini berusaha mengantisipasi antipati masyarakat terhadap dirinya sebagai Perusahaan Asing. Sebut saja kerusuhan Freeport akibat aksi demo ribuan buruh tambangnya yang belum berujung. Chevron telah menyadari “jati dirinya” dan berusaha memposisikan diri di tempat yang aman. Mengingat kampanye ini dilakukan secara global.

Citra Chevron yang Muda Namun Sangat Merakyat

Citra Chevron yang Muda Namun Sangat Merakyat


Bahkan Terdapat Desainer yang Sangat Jarang Dijadikan Ikon

Bahkan Terdapat Desainer yang Sangat Jarang Dijadikan Ikon

 

Dinilai Sebagai Sebuah Janji

Dinilai Sebagai Sebuah Janji


552005_3793559243966_1965072745_n

Yang Jelas Saya Tidak

2 Comments

  1. Syuk says:

    Ini kan yang di facebook notes waktu itu? Keep your criticism, Thur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>