Prev Daftar Isi
Perancangan Ensiklopedia Visual “DPAZL” sebagai Media Pembangun Awareness terhadap Eksistensi Kelompok Elit Illuminati
February 19, 2013
fuck_the_system_by_anduq
Sistem yang Bedebah
April 22, 2015
Show all

“Pertemuan” Islam dan Yahudi di Jakarta: An Interfaith Dialogue

10308394_10205742786155348_4849858454324551371_n
Saya harus menulis ini. Sebetulnya bukan karena alasan-alasan yang "prinsipil" #aadc?, tetapi mungkin saja beberapa orang juga memiliki curiosity tersendiri terhadap topik ini. Saya menyebut beberapa orang itu sebagai truthseekers. Bukan hanya itu, saya juga tak mau jadi orang yang hanya datang lalu pergi dengan hanya meninggalkan secarik foto di Path & facebook, tanpa mencoba menelaah dan membagikan informasi yang saya dapatkan. Kalau begitu namanya pencitraan bukan sih? *yang akhir-akhir ini, kata itu memiliki konotasi negatif yang cukup membuat kesal.

Menarik sekali. Untuk pertama kalinya saya bisa bertemu dengan seorang Rabbi Yahudi. Ia adalah Rabbi Marc Schneier. Walaupun ia harus datang terlambat bersama teman (bukan lawan) bicaranya, imam Islamic Center of New York, Shamsi Ali yang berdarah Indonesia. Jujur saja mendegar kata "Yahudi" disebutkan di depan panggung cukup menggelitik beberapa bulu roma saya di pundak. Bukan karena takut, mungkin karena kata itu menyimpan beberapa stereotip yang cukup kuat. Tentang siapa yang membentuk stereotip itu, yang jelas bukan saya, dan bukan anda. Tetapi siklus panjang pengetahuan masyarakat kemungkinan adalah penyebabnya, menimbang betapa kita ibarat telinga-telinga kesekian yang dibisiki pesan berantai dari jarak waktu dan tempat yang sangat jauh.

Sons of Abraham: A Candid Conversation about Issues That Divide and Unite Jews and Muslims.

Itulah pertemuan yang saya bicarakan. Sebuah diskusi di - mereka menyebutnya "pusat kebudayaan mutakhir" @america yang sudah terbiasa menyuguhkan pembicaraan menarik baik berhubungan dengan Amerika maupun tidak. Beberapa kali mereka menampilkan praktisi dari ranah fotografer dan ilustrator. Dan kali ini, mereka membicarakan sesuatu yang cukup berbeda. Islam dan Yahudi? waw. Sebagai sebuah acara universal di salah satu mall mewah di tengah Jakarta, ia membuat saya dan teman saya sedikit berprasangka bahwa acara ini akan sedikit timpang dan mungkin tidak terlalu netral. Tapi kami berusaha berpikiran terbuka dan sudah masuk ke auditorium setengah jam sebelum acara dimulai.

Rupanya, kecepatan kami tidak berbanding lurus dengan kecepatan dua pembicara utama itu untuk datang. Acara dimulai terlambat hampir satu jam dan kedua pembicara utama yang berdomisili di New York itu belum datang. Setelah video umat muslim di Amerika yang sangat menarik diperlihatkan, akhirnya bapak Ahmad Najib dari Mizan selaku editor buku Sons of Abraham dan bapak Mark Clark dari duta besar Amerika di Indonesia melakukan Intermezzo tentang bagaimana toleransi umat beragama di Amerika dan di dalam Islam. 


Pak Najib menuturkan bagaimana nabi Muhammad SAW tidak pernah mendeklarasikan permusuhan bahkan sangat toleran kepada umat beragama lain termasuk Yahudi, dan tentang kisah beliau (Rasul SAW) menyuapi seorang Yahudi buta tunawisma yang sangat membenci beliau. Pak Najib juga menceritakan isi buku Sons of Abraham tulisan Rabbi & Imam sang pembicara utama tersebut yang sangat menarik, bahwa kecurigaan terhadap agama lain bukanlah ciri khas umat Islam. Tetapi orang muslim lah yang cenderung dicurigai dengan prasangka buruk oleh umat agama lain. 

Sedangkan pak Mark menyatakan dari sudut pandang non-muslim dan non-yahudi, bahwa di masa lalu, ia memang tidak begitu paham tentang agama-agama di luar agamanya, atau agama non-kristen. Sudut pandangnya tentang agama lain hanya dibentuk oleh media. Ya, media-media di Amerika. Hal tersebut membuat pak Mark merasa diperlukan adanya dialog antar agama yang berkesinambungan dan bukan hanya sekali-sekali. Dia optimis, bahwa konflik keagamaan akan dapat diselesaikan dengan dialog yang baik.

Ibarat layar sentuh pada smartphone, saya memang orang yang responsif. Pernyataan itu membuat saya berpikir, benarkah itu bisa? Bukankah sebagai contoh, dalam salah satu konflik paling krusial atas Israel - Palestina di bulan Ramadhan lalu terjadi gencatan senjata selama 72 jam, namun serangan rudal dan tank-tank Israel tetap terjadi di tempat-tempat sipil? Bukankah John Kerry - Menteri luar negeri AS pernah menyatakan bahwa Israel tidak bisa diharapkan untuk diajak bernegosiasi sekalipun dengan pistol di kepalanya? seperti tersurat dalam Reuters:

Israel cannot be expected to negotiate with a gun to its head when we are discussing the matters which are most critical to our national interests. (John Kerry)

Salah satu hal yang cukup aneh adalah ketika dalam sesi tanya jawab, seorang hadiroh bertanya jika memang Amerika mengakomodir dan toleran terhadap perbedaan agama dan pluralisme, lantas kenapa Amerika mendukung Israel dengan menyumbangkan sekitar 6ribu dolar/ jam kepada Israel? Lalu pak Mark menjawab secara diplomatis bahwa kita harus membedakan kepentingan agama dengan kepentingan politik. Ia juga menjawab bahwa kita juga perlu tahu tentang siapa yang paling banyak memberikan sumbangan kepada Palestina. Lalu dia menyatakan tentu ada lah Amerika.

Yang pertama kita mesti pisahkan, saya kira, kalau kita berbicara mengenai agama dan politik. Itu berbeda, tentu saja.

Sebentar sebentar... oke, kita anggap itu masalah politik. Namun bukankah sangat aneh ketika kita melihat seorang anak kecil berkelahi, lalu daripada memisahkan kedua belah pihak, kita malah memberikan gunting untuk anak yang satu dan memberikan pisau untuk anak yang lain? Artinya kita mengamini perseteruan itu bukan? Jadi kepentingan politik macam apa itu? Tolong beritahu saya jika memang sayalah yang #gagalpaham. 

Sambil sesi tanya jawab berlangsung, hal itu membuat saya tiba-tiba berimajinasi di dalam kepala tentang seperti apapun kami melakukan diskusi, tetap saja militer-militer Israel kemungkinan sedang bertindak membahas strategi-strategi baru ataupun menemukan senjata-senjata baru. Atau sebaik apapun perwakilan pemerintah yang muncul di masyarakat, penguasa-penguasa elit dan pengambil keputusan (yang tadi disebutkan memiliki kepentingan "politik") tetap saja akan memberlakukan agenda mereka. Orang-orang dengan wajah familiar itu hanya ibarat pion pelindung sedangkan para elit adalah sosok-sosok yang tak mungkin bisa kita ajukan pertanyaan karena bertatap muka adalah hal yang hampir tak mungkin. 

Publikasi Acara dengan Judul Bahasa IndonesiaPublikasi Acara dengan Judul Bahasa Indonesia

Akhirnya mereka Datang

Tetapi setelah (akhirnya) sang Rabbi dan Imam datang di 30 menit terakhir, setidaknya pemahaman kami yang cukup rancu menjadi cukup jelas bahwa menurut saya, pemeluk agama tetaplah pemeluk agama, sedangkan mereka yang haus kepentingan adalah hal yang berbeda. Saya tidak mau menyebut lawan kata pemeluk agama sebagai perusak agama. Karena siapa sih sebenarnya yang merusak? Orang-orang dari dalam agama itu sendiri atau pihak luar? atau lebih parah, orang yang memang beragama atau tidak beragama? darisitu akan muncul kepentingan apakah yang sebenarnya ada dibaliknya, kepentingan agama ataukah yang lebih dari itu? Saya yakin pertanyaan ini tak terlalu menarik untuk dijawab oleh kebanyakan orang.

Jadi maksud saya, duet kedua tokoh tersebut mengingatkan saya kepada hubungan saya dengan teman-teman baik saya yang berbeda agama. Kami bisa membicarakan hal yang berhubungan dengan agama kami masing-masing, tanpa hard-feeling. Dan memang semestinya begitu. Pada dasarnya hubungan antar umat beragama di seluruh dunia memang sesimpel itu. Termasuk hubungan antara orang yang betul-betul beragama Yahudi dengan yang betul-betul beragama Islam. Di akhir acara Imam Ali menjelaskan bahwa konflik-antar agama merupakan hal yang terjadi dimana-mana. Namun itu merupakan pola umum yang terjadi antara mayoritas dengan minoritas. Beberapa mayoritas menindas yang menoritas dan beberapa minoritas menuntut haknya secara terlalu berlebihan. Apakah anda tahu betapa Indonesia adalah negara paling toleran di dunia? Silahkan google sendiri hal ini. 

Namun coba sekali-sekali kita bayangkan, konflik yang sebenarnya terjadi SAAT INI di Indonesia itu konflik apa? paling-paling hanya konflik sosial-media yang memang disetir oleh kata kunci "media" seperti dijelaskan oleh pak duta besar Amerika tadi. Ataupun terorisme yang terjadi di luar sana bahkan di negara ini, apakah itu benar-benar dilakukan oleh orang-orang seperti tetangga atau teman-teman kita yang berbeda agama? Saya yakin tidak. Apakah semua orang yang membicarakan tentang terorisme pernah mengakses informasi tentang 9-11 yang merupakan pekerjaan orang dalam ataupun seri pengungkapan bom bali yang penuh dengan kejanggalan? Atau benar-benar tahukah mereka tentang apa ISIS sebenarnya dan apakah keberadaannya betul-betul masih ada? Saya tidak yakin mereka melakukannya.

Antara Sang Rabbi dan Sang Imam

Rabbi Schneier dan Imam Ali tidak begitu banyak berbicara karena keterlambatannya. Kami hanya punya setengah jam tersisa. Bahkan sesi tanya jawab langsung dimulai kembali. Pada dasarnya hal yang digarisbawahi adalah pernyataan sang Rabbi tentang kesamaan antara Islam dan Yahudi. Yang pertama, kita sama-sama percaya terhadap 1 Tuhan, sama-sama memiliki standar makanan (halal untuk Islam, Kosher untuk Yahudi), sama-sama beribadah setiap hari (Islam 5 kali, Yahudi 3 kali), sama-sama memiliki kiblat (Mekah untuk Islam, Yerusalem untuk Yahudi (Sebentar deh, kiblat pertama Islam kan di Masjidil Aqsa di Yerusalem, untuk umat Kristen, Yerusalem juga penting kan)) dan beberapa yang lainnya. Dia menyatakan bahwa hal yang uniknya adalah kita sama-sama anak nabi Ibrahim. Islam adalah keturunan nabi Ishaq dan Yahudi keturunan nabi Ismail. Menurutnya, tidak ada agama lain yang memiliki kedekatan seperti Islam dengan Yahudi. Yang menarik adalah pernyataan kontradiktifnya bahwa bagi Yahudi, Israel bukan permasalahan politik melainkan permasalahan yang paling penting di dalam agama mereka. Ia berharap agar umat muslim mampu memiliki sensitivitas bahwa Israel merupakan hal yang paling penting bagi mereka, seperti halnya ia memiliki sensitivitas (kepekaan) terhadap Islam. Ia ingin Islam yang membela kepentingan Yahudi, sebagaimana ia menyatakan bahwa ia yang pertama kali akan membela kepentingan Islam di Amerika.

Lalu seperti yang saya harapkan, Imam Ali meluruskan bahwa manusia pertama yang ada di bumi, nabi Adam AS pada dasarnya adalah Islam yang menyembah satu tuhan sang Pencipta-nya, seperti yang kita sembah sampai sekarang. Agama tauhid baik Yahudi, Kristen dan Islam adalah saudara terdekat, itu sebabnya mereka disebut ahli kitab. Sehingga memang pada akhirnya semua umat manusia itu bersaudara. Lalu Imam Ali juga menjelaskan betapa konflik antar agama itu terjadi dimana-mana, dan itu semua terjadi tidak karena apa-apa melainkan adanya ketidakterbukaan, ketidakpedulian dan ignorance masing-masing pihak terhadap agama lainnya. Terdapat prejudice yang tidak pernah diklarifikasi, dan ironisnya, media tidak melakukan apa-apa kecuali memperburuknya. Hal-hal yang berhubungan dengan toleransi dan hal-hal baiknya tentu tidak akan muncul di New York Times. Ia menyatakan dengan tegas bahwa media memiliki posisi yang fungsinya hanya memperburuk keadaan, memperburuk konflik-konflik tersebut. Imam Ali juga mengingatkan lagi tentang bagaimana pemerintahan Islam di Spanyol memberikan toleransi umat Yahudi yang pada masa itu. Ia mengingatkan bagaimana kerajaan Ottoman melindungi yahudi-yahudi yang dibunuh di Eropa, serta sejarah toleransi lainnya. Namun "politik" hanya memperlihatkan sisi-sisi negatif yang memperkeruh dan mengobarkan api permusuhan. Imam Ali juga menceritakan pengalamannya yang sampai pada kesimpulan betapa Eropa sudah sangat sekuler.

Penutup

Jika kembali ke konflik Israel - Palestina, saya yakin bahwa kita sudah cukup pintar untuk membedakan yang mana pemeluk agama Yahudi dan yang mana penganut gerakan politik Zionisme ataupun secret societies. Pada akhirnya, yang saya harus garisbawahi adalah kata kunci: media, politik dan sekularisme. Ironis sekali bahwa pada saat ini, Indonesia sedang membusuk dengan peperangan pemikiran yang sangat-sangat disetir oleh media. Bagi netizen yang selalu sibuk di sosial media tentu akan sangat mudah merasakannya. Dan jelas sekali, tepat disaat adanya kepentingan politik dimana-mana.
Saya percaya bahwa umat beragama memang betul-betul dipolitisasi seperti yang disebutkan oleh Imam Ali. Namun apa sih yang dimaksud politisasi? apakah kepentingan supaya seseorang memenangkan pemilu presiden? apakah berhubungan dengan suatu negara yang menginginkan dominasi tertentu? Tanpa bermaksud menghubung-hubungkan hal yang nggak-nyambung, saya rasa untuk memahami hal ini kita dapat melihat susunan piramida yang dipaparkan dalam film dokumenter 2 jam berjudul Thrive yang menawarkan gerakan perubahan sosial untuk keluar dari kerangkeng piramida terbawah. Ya, masyarakat berada di urutan terbawah, kemudian disusul dengan komunitas agama dan pemerintah, multinational company, bank, federal reserve sampai the elite. Masyarakat yang seringkali diibaratkan dengan domba-domba, kebanyakan hanya berinteraksi dan sibuk dengan kepentingan-kepentingan dalam piramida terbawah. Kita tidak pernah betul-betul mengetahui tentang apa yang berada di tingkat yang lebih tinggi lagi. Kita tidak tahu hubungan seperti apa yang dimiliki antara pemerintah dengan perusahaan-perusahaan besar. Kita tidak begitu mengerti tentang bagaimana hubungan finansial pemerintah mengenai pembangunan di daerah kita dapat berjalan ataupun sebut saja proyek MRT dapat dieksekusi. Yang ingin saya katakan adalah kita tidak betul-betul tahu siapa yang bergantung kepada siapa, ataupun siapa yang bekerja kepada siapa.
Piramida Dominasi (Thrive)Piramida Dominasi (Thrive)

Disaat kita melakukan "perang saudara," pihak-pihak di tingkat yang lebih tinggi tentu saja tetap menjalankan agenda tahunan jangka panjang mereka. Ya, saya percaya dengan kata kunci yang ketiga. Sekularisme. Mereka mengupayakan masyarakat kehilangan identitas, kehilangan nilai-nilai agamanya agar lebih mudah dikontrol. Pendekatan apapun namanya, ujung-ujungnya memecah belah kita para umat beragama. Padahal semua umat beragama itu bersaudara. Ujung-ujungnya kita mungkin malu menjadi bagian dari agama tertentu, kita harus menyembunyikan identitas kita, ataupun atribut-atribut kita untuk dapat diakui sebagai manusia universal dan civilized yang bersih dari image-image buruk yang media ciptakan. Globalisasi menciptakan similarisasi terhadap masyarakat di seluruh dunia. Kita berpakaian dengan cara yang sama, menyapa dengan cara yang sama, makan makanan yang sama, bahkan dengan selera musik ataupun film yang sama. Dan politisasi, jelas ingin masyarakat global itu dikontrol olehnya. 

Pertanyaannya, apakah kita ingin tahu siapa yang mengambil keuntungan paling besar dari itu semua dan siapa yang berada di puncak piramida? Saya yakin anda lebih hebat dari itu untuk menjawabnya. Terima kasih sudah membaca :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>