10308394_10205742786155348_4849858454324551371_n
“Pertemuan” Islam dan Yahudi di Jakarta: An Interfaith Dialogue
November 14, 2014
Up
Antara TEDx Talks, Materi Kontroversial, Serta Kantung Muntah
June 24, 2015
Show all

Sistem yang Bedebah

fuck_the_system_by_anduq
Saya berbicara mengenai sistem, yang sebagai pemanasan, tidak ada salahnya jika saya mengutip dari Wikipedia, yang mana:

Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.

Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak

Kata “sistem” banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka.


Atau begini saja. Ketika kita datang ke restoran cepat saji, sebagian besar dari kita pasti akan memarkir kendaraan kita dengan mengambil tiket sebelumnya, lalu “rela” mengeluarkan tenaga lebih dengan membuka pintu ke arah luar hanya karena sebuah sign bertuliskan “tarik” padahal sebenarnya bisa saja di dorong. Kemudian (jika datang seorang diri) akan dengan manisnya berdiri di belakang antrian yang seringkali cukup panjang, mendongakkan wajah ke atas untuk memilih paket yang ditawarkan, membayar (beberapa dengan sabar menunggu struk walau uangnya pas atau kembaliannya hanya koin), lalu dengan ikhlas memompa saus di tempat yang berjarak beberapa meter lebih jauh, dan kemudian baru memilih tempat duduk. Tapi tunggu, masih harus dipotong dengan menyempatkan diri ke wastafel, mencuci tangan, menggunakan sabun, lalu mengeringkan tangan di hand dryer, dan tentunya memasang sedotan, membuka boks ataupun bungkus nasi baru kemudian makan dengan lahap. Itupun jika tidak diberikan sign kecil bertuliskan angka yang berarti harus menunggu sekian menit untuk dapat memulai makan. Terdengar sangat civilized bukan?

Bayangkan, banyak orang melakukan urutan tersebut secara lengkap dan dengan ikhlas, atau lebih tepatnya, tanpa menyadari tentang apa yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Apakah betul-betul karena kesadarannya sendiri? Atau sekedar mengikuti sistem yang sudah ada – alias ngikut-ngikutin orang lain? Dan yang saya ingin katakan adalah, bahwa itulah sebuah sistem. Sequence di atas mungkin akan mengingatkan kita mengenai rentetan “birokrasi” lain yang bagi sebagian orang termasuk saya cukup menyulitkan seperti ketika di bioskop, pasar swalayan, sevel atau mungkin tentang rumitnya melepaskan jaket atau barang bawaan kita ketika bukan berada di bandara namun hanya sebuah mall bahkan toko buku.

Lantas, bagaimana dengan “ke-lalu lintas-an” yang terdiri dari jalanan, lampu merah, marka jalan, kendaraan, lajur-lajur dan lain-lain, apakah itu bukan sebuah sistem? Apakah penyebab macet, becek, kotor dan bau-nya pasar tradisional? bertele-telenya proses pembuatan surat keterangan dari institusi, atau yang lebih simpel, bagaimana mungkin sistem id card di warnet ataupun game arcade seperti Timezone ataupun keanggotaan rental video seperti Video Ezy bisa lebih efektif dibandingkan identitas kenegaraan kita yang kita tahu sebagai KTP? tidakkah itu karena sistem?

Dan pertanyaannya, apa orang-orang yang tadi rela meluangkan waktunya, menggerakkan tangan dan kakinya dengan sequence yang panjang, sudah bisa dipastikan akan rela menunggu untuk lampu merah? akan menggunakan lajur yang benar? atau akan memegang sampah yang mereka hasilkan dan baru membuangnya ketika menemukan tempat sampah terdekat seperti halnya yang dilakukan di dalam mall atau pusat perbelanjaan? jawabannya adalah TIDAK.

Jika sistem lalu lintas diibaratkan sebagai sebuah sistem yang di desain seperti misalnya… sebut saja permainan Monopoli. Berarti, jalan yang berlubang, trotoar yang anjlok bahkan tak tersedia, marka jalan yang tidak lengkap, rel kereta api yang tak berpintu, ataupun proses penilangan, dapat dianalogikan seperti bermain monopoli tidak dengan kartu yang  lengkap, atau dengan dadu yang hilang, atau bahkan karena pemain yang curang, sehingga hasil permainan pun menjadi jauh dari kata adil ataupun “aci”.

Begitupula dengan sequence-sequence lain yang dekat dengan keseharian kita. Ketika mereka tidak memenuhi “standar” mereka tidak lebih dari sebuah board game yang tidak lengkap. dan ketika sistem abnormal itu tetap dipaksakan untuk diterapkan, hal tersebut bisa dibayangkan seperti halnya membeli cabai dan bumbu dapur di pasar tradisional yang becek, namun harus menuju kasir yang jauh untuk kemudian membayar dan menunggu struk diberikan.

Sampah, banjir, pengemis, pemulung, gelandangan, “rerebutan”, hingga korupsi sekalipun, semua merupakan produk dari sebuah bentuk kebobrokan sistem. Bahkan Tuhan sekalipun mengajarkan manusia untuk berlaku sistematis. Ketika tiap belahan bumi bergantian berganti shift untuk bersujud kepadanya, yang kesemuanya hampir dapat dipastikan telah menghilangkan najis di anggota-anggota tubuhnya dengan sistem bersuci. Dan kesemuanya mengarah ke titik yang sama: Mekah – the Golden Ratio of the earth. Dan tentu sistem tersebut tidak dapat dipisahkan dari harmoninya komposisi tiap organisme dari makhluk hidup, alam, hingga tata surya dan segala yang berada di langit dan bumi.

Lalu siapa yang dapat kita salahkan? sungguh tidak ada yang dapat menjawab kecuali potongan “quote” kecil ini:

“…dan perumpama­an-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir”

*Di-posting ulang dari Facebook Notes saya pada 22 Mei 2012 pukul 7:33 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>