Bahkan Terdapat Desainer yang Sangat Jarang Dijadikan Ikon
Chevron: Kota Leluhur Yahudi yang Pernah Dibantai, Diperkosa, Bahkan Dibakar Bangsa Arab
April 12, 2012
Show all

Tentang Festi-File Binus: “Gue anak Paramadina…”

2186_1083454973053_873_n
Jum'at Siang

Usai shalat Jum'at di kantor, aku yang pagi itu habis "ditugaskan ke lokasi kantor customerdi daerah Kemang—yang membuatku tak bisa menahan senyum selebar-lebarnya—karena itu bukan kantor, melainkan rumah yang dialih-fungsikan sebagai sebuah kantor dan ternyata di dalamnya terdapat lusinan komputer-komputer indah dengan gambar apel—dan ternyata disana merupakan kantor bagi para desainer grafis profesional—dan ternyata lagi dari balkon belakang bisa ku lihat sepetak kolam renang dan rumah-rumah normal lainnya—dan sepertinya memberikanku motivasi sekaligus rasa iri" ini merasakan getaran di sisi kanan pangkal pahaku, dan aku langsung tahu kalau seseorang sedang menghubungiku. Dengan tergesa-gesa ku angkat telepon genggamku.

"Halo Thur!", kudengar kata itu dari speaker, "Iya halo, ini siapa?", kataku,
"Ini Rio, Panitia Festi-file", jawabnya dengan cepat,
"oh iya, ada apa?" tanyaku lagi,
"Iya nih, lo bisa ga dateng ke seminar IT di Binus?", katanya,
"Wah gue lagi gawe nih, pulangnya jam 5, emangnya bayarnya berapa?", tanyaku,
"Nggak bayar kok, jadi semua peserta lomba diundang ikut seminar ini dari Microsoftdan dapat sertifikat, dan terakhir ada juga pengumuman pemenang lomba", jawabnya lengkap.

Mendengar itu, aku jadi sedikit tertarik, aku juga baru tahu bahwa hari itulah pemenang lomba diumumkan, apalagi karena mendengar sertifikat dari Microsoft yang bisa ku dapatkan tanpa biaya. Tapi saat aku ingin menjawab, speaker telepon genggamku membisu tiba-tiba, rupanya ia terputus.

Setelah itu, terlintas di kepalaku untuk izin dari kantor, pekerjaanku 'kan sudah selesai waktu ke Kemang tadi, kupikir seminar itu lebih baik daripada waktuku terbuang percuma untuk internet-an di depan meja berantakanku seperti biasa.

Selesai makan, aku langsung terburu-buru naik ke lantai 19 dan menuju ruanganku untuk segera menanyakan izin ke atasanku. Sampai di atas, getaran di celana ku itu ku rasakan lagi, dengan cepat ku jawab telepon itu. 

"Halo thur, ini gue Rio, sori tadi batre gue abis, gimana jadi lo bisa ga?", ternyata sang Panitia menghubungiku lagi. Aku merasa sedikit aneh dengan sikap "kerajinan"nya menelepon ku hingga 2 kali. Kami mengobrol sedikit tentang waktu kedatangan, lokasi dan lain lain dan akhirnya aku memutuskan untuk izin dari kantor.

Ternyata proses izin itu tidak semudah yang aku bayangkan, buatku yang anak baru ini, izin di tengah jam kerja dengan alasan datang ke pengumuman lomba desain grafis terdengar tidak penting dan konyol di telinga atasanku. Tapi setelah beberapa lama, ia memberikan kesempatan pertamaku, saat itu juga aku langsung bergegas membereskan barang-barang, dan secepatnya menuju halte Sudirman, menunggu bis kota jurusan Grogol - Kp. Melayu untuk bisa sampai ke prapatan Slipi.

Akhirnya—setelah sempat bertemu orang mencurigakan sekaligus menyeramkan di bus, dan melanjutkan perjalanan dengan angkot kijang berwarna biru—aku sampai di depan sebuah gedung modern dengan mayoritas warna abu-abu - orange yang walaupun saat itu cukup asing bagiku karena sudah cukup lama aku tidak melewati daerah asing itu lagi, namun aku tahu bahwa itulah kampus Binus.

Aku merasa sangat tidak enak disana, khususnya karena penampilanku yang mengenakan kemeja tangan panjang putih, celana panjang formal krem muda, dan sepatu pantofel hitam. Untungnya aku merasa sedikit terbantu dengan jaket levis abu-abut tua-ku. Saat itu satu-satunya makhluk yang dapat kuhubungi adalah Arti, temanku yang kuliah di Binus, ia jugalah yang membiayai pendaftaran lomba desain wallpaper yang aku ikuti di kampusnya, karena hanya dia lah yang bisa menemaniku dan membuatku sedikit merasa tidak aneh. Tapi ternyata telepon genggamku kehabisan baterai. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju pintu utama gedung yang cukup besar itu, dan menanyakan lokasi seminar IT Festi-File ke Resepsionis. "...di Auditorium lantai 6...", hanya itu yang langsung kuingat dari kata-katanya yang panjang.

Dengan langkah dua kali lebih cepat dari biasa, aku segera masuk. Saat itu gedung perkuliahan itu terlihat seperti sebuah pusat perbelanjaan dengan eskalatornya yang bertingkat. Kedatanganku disambut dengan semacam galeri yang ternyata memamerkan karya para peserta lomba, termasuk milikku, di nomor urut 15, yang menurutku terlihat tidak berwarna setelah dibandingkan dengan hasil karya peserta lain. Saat itu aku berharap bisa mendapatkan juara favorit, karena Arti berkata padaku bahwa ia dan teman-temannya memilihku sebagai favoritnya. Lagipula aku sempat melihat beberapa karya yang menurutku mungkin akan menang. Tapi saat itu aku langsung sadar bahwa seminar sedang berjalan dan aku harus sampai disana secepatnya. Kunaiki salah satu tangga berjalan terdekat, menuju lantai empat.

Sampai di atas, tak ada satu ruanganpun yang menarik perhatian, semua terlihat hampir seperti sebuah laboratorium komputer. Aku memutuskan untuk bertanya kepada seseorang yang sedang melamun melihat ke bawah dari pinggiran pagar, tapi menurutnya seminar itu berlangsung di lantai enam atau tujuh. Dan ketika aku sampai di tempat yang dimaksud, tidak ada ruangan yang mencolok, disitu aku mulai merasa muak dengan eskalator-eskalator lambat yang memaksaku untuk ikut berjalan walau ia juga bergerak membawa siapapun di atasnya. Di lantai bawah, kulihat seorang petugas keamanan dengan seragam gelap, dengan tergesa-gesa aku pun turun dan betapa kagetnya aku saat itu karena setelah sampai di bawah, petugas keamanan itu lenyap dan malah berada di lantai atas. Akhirnya setelah beberapa kali naik-turun tangga darurat, petugas itu kutemukan dan tanpa basa basi kutanyakan dimana sebenarnya lokasi seminar itu. Dan ternyata, lantai empat lah yang tepat. Saat itu aku sadar bahwa bertanya kepada orang yang sedang melamun bukanlah ide yang bagus.

Akhirnya, ku lihat sebuah ruangan yang tidak terlihat seperti sebuah laboratorium, dan beberapa orang langsung menyambutku dengan hangat.

"Seminar IT benar disini ya?", tanyaku."Iya benar, darimana ya?", tanyanya balik. Mendengar pertanyaan itu, pikiranku tidak bisa menjawab dengan refleks, "ng... dari... hm... saya fathur... pokoknya saya ikut lomba desain, dan tadi yang namanya Rio nelepon ingetin saya untuk dateng", jawabku gagap,
"oh ya udah diisi aja", katanya sambil mengarahkan tangannya ke arah sebuah laptop, aku pun mengisi buku tamu itu secepatnya, namun sedikit terhambat saat melihat kolom yang seakan-akan menanyakan, "Anak mana lo???!!!", dengan gugup kutanya tentang apa yang seharusnya ditulis disitu, "Asalnya dari kampus mana?", jawabnya sekaligus bertanya. "hm... ng.... dari.... uh... ga usah diisi ga papa kan?", jawabku.
"Oh ya udah deh gpp", katanya. Aku pun menaiki tangga menuju ke ruangan seminar, saat itu yang kubayangkan adalah studio bioskop tempatku biasa menyalurkan hasrat visualku. 

Sampai di dalam, panitia lainnya langsung mengarahkanku ke sebuah tempat duduk kosong, aku pun duduk seketika, tak ingin jadi perhatian. Saat itu satu-satunya orang yang ingin kutemui hanyalah Arti. Kuperhatikan seminar yang ternyata sudah hampir selesai itu, sambil mendengarkan ocehan orang-orang yang sok IT di belakangku. Rasanya begitu aneh berada di tempat semacam itu sendirian, dan rasanya begitu menyedihkan berharap menang dan membawa hadiah yang ditawarkan.

Saat rasa kepedean ku untuk menang datang, jantungku makin berdebar... membayangkan bagaimana bila aku naik ke atas panggung yang cukup besar itu, dan membayangkan apa yang akan ditanyakan pembawa acara padaku. "KULIAH DIMANA??", tiba-tiba kalimat itu terngiang di otakku. Benar sekali, itu yang paling aku khawatirkan... dimana? masa bilang "udah kerja!"?

Aku menguras otakku untuk memikirkan jawaban apa yang akan ku berikan. SMK Telkom?? bagaimana mungkin aku punya keberanian menyebut kata itu. Atau mungkin sedikit berbohong... seperti... ITB? terlalu jauh untuk mengikuti lomba semacam ini, STT Telkom? juga demikian. Begitulah yang aku pikirkan saat itu, yang membuatku makin berdebar-debar membayangkannya. Tapi sisi pesimis diriku sedikit menenangkanku, bahwa aku tak perlu menjawab siapa-siapa, karena aku tidak mungkin menang.

Semakin tertekan dengan kondisi, saat itu aku ingin sekali menghubungi temanku, arti, aku berniat mengisi baterai di pintu masuk karena kulihat ada laptop disana. Tapi baru saja ingin beranjak, speaker mengeluarkan suara.

"Acara selanjutnya, pengumuman pemenang lomba....."

"TIDAK!!!!", jantungku berdebar makin kencang, kembali duduk dan memperhatikan baik-baik yang terlihat oleh mata, dan yang terdengar oleh telinga. Kulihat nominasi lomba, sambil mendengar komentar penglihatnya di sekitarku. Saat karyaku muncul, hanya komentar tentang seramnya wajah topeng lah yang ku dengar. Aku cukup kecewa.

Beberapa menit berlalu, itulah saatnya bagi ia yang terpilih, untuk maju ke depan ratusan orang. Jantungku tak tertahankan, begitu pembawa acara mengumumkan.

"Juara favorit dimenangkan oleh.....", katanya"Glek", mungkin begitu suara yang terdengar waktu aku menelan ludah, begitu berdebar, sambil menunggu kalimat selanjutnya dari bibir pembawa acara yang tidak menarik itu.
"STEFANI BLAHBLAHBLAH!!!!!!", jawabnya keras, setelah sebelumnya terjadi kesalahan teknis yang makin merusak siklus nafasku. Aku sangat kecewa mendengarnya, rupanya izin yang kudapatkan dengan susah payah di kantor benar-benar sia-sia.

Sang juara favorit maju ke depan. Aku begitu malu pada diriku sendiri saat itu, namun aku juga tak mau melewatkan siapa peraih juara utama yang beruntung mendapatkan uang senilai satu juta rupiah itu. Kucoba untuk tenang.

"Dan juara pertamanya adalah....", rasa kecewaku sudah terjadi sejak awal, jadi tidak ada perubahan ekspresi saat aku mendengar itu. "siapa sih nih....", katanya dengan bodohnya... dan membuatku cukup penasaran."juara pertamanya adalah..... Deden Ef!!!!!"

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tak berfikir apa-apa saat itu, debar jantungku sudah hilang, tak ada ekspresi apa-apa, hanya maju ke depan dan sebisa mungkin terlihat keren. Mungkin rasa senangku sudah tak bisa lagi di ekspresikan. Setelah berjalan beberapa langkah, aku tahu kalau semua orang memperhatikanku, kucoba tenang, dan aku menaiki tangga menuju ke panggung, bertemu orang yang merebut posisi juara favoritku. Di depan sana sungguh berbeda dengan di banggu penonton. Aku tak bisa melihat apa-apa dari sana, hanya cahaya yang begitu terang, tapi ku coba untuk tersenyum, bagiku, difoto untuk dipublikasikan di suatu media merupakan hal yang sangat penting. Tapi saat itu aku sadar bahwa pertanyaan berbahaya yang tadi kupikirkan sedang mendekatiku.

"Oke... kita udah dapet pemenangnya... sepasang gini nih...", kata wanita pembawa acara itu, "tapi sebelumnya kita kenalan dulu dong... namanya siapa? Alamat? Tanggal Lahir? blah blah blah...", lanjutnya.
"Glek", saat microphone diserahkan kepadaku, tak ada lagi waktu untuk berfikir.

"Nama gue fathur", kataku kalem."Dari mana nih?", tanyanya, ya itu dia pertanyaan yang menunggku sejak awal.
"hm... gue gak kuliah di binus, gue tau lomba ini dari temen gue yang anak sini", jawabku
"ooh... trus kuliah di mana?", tanyanya.
"gue anak Paramadina"

Tak ada lagi nama tempat yang bisa disebutkan oleh mulutku ini. Aku menyebut itu karena akhir-akhir ini seorang teman dekatku selalu membuatku terpaksa mendengar nama universitas islam swasta itu. Dan ketika ditanya soal jurusan, mulutku juga langsung menjawab "DKV", dengan mudahnya... dan saat itu seluruh peserta seminar memberikan sorakannya kepadaku, "Pantes.... anak DKV Paramadina!!!", mungkin itulah yang ada dipikiran mereka. Padahal kenyataannya, aku hanyalah seorang anak berumur 18 tahun lulusan SMK yang sedang memanfaatkan kemampuan yang didapatkan disekolah—yang biasa disebut bekerja—di sebuah perusahaan swasta.

Setelah itu, hadiah dibagikan, aku memegang sebuah kertas bertuliskan "Rp. 1.000.000" di sisi kiri, sedangkan sisi kanan dipegang oleh salah satu panitia. Tidak terbayangkan olehku, sedangkan sang juara favorit terlihat kesulitan dengan hadiah speakernya. Aku tersenyum, tahu bahwa di depan sana beberapa orang sedang mengambil gambar diriku. Dan setelah formalitas itu selesai, mereka berterima kasih, ku kembalikan terimakasih itu, aku berjalan menuruni tangga, membawa sebuah tas besar berisi bingkisan kecil, kembali ke tempat dudukku. Tak ada yang bisa kulakukan disitu, hanya menutup wajah dengan lengan kananku, tertawa terbahak-bahak.
Karya simpelku seperti biasa, yang kubuat berhari-hari dengan memori komputer 256 Mb yang sangat terbatas. 

Tema: The Color of IT LifestyleKarya simpelku seperti biasa, yang kubuat berhari-hari dengan memori komputer 256 Mb yang sangat terbatas. Tema: The Color of IT Lifestyle

Oh ya, usai acara, setelah keluar dari ruangan, Arti, teman indahku, yang kucari sejak awal kedatanganku, ternyata telah menyaksikanku. Tidak ada kata apapun yang kami keluarkan selain "HAHAHAH...!" Ketika itu, aku bahagia, sekaligus malu, tak tahu apa yang menungguku di tahun-tahun yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>